![]() |
Di mana?
Kembalikan Dia
Senyum ketulusan slalu mengembang di pipinya
Bunga-bunga mampu dibuat berdendang olehnya
Mengikuti irama angin pembawa kedamaian
Kala sang fajar menyapa dunia
Ia hadir menaburkan benih-benih kebahagiaan
Pena yang tak berdaya
Mampu dibuatnya menari di atas selembar kertas putih
Tak pernah ada kata menyerah, sebelum jiwa terlepas dari raga
Tapi kini, kemanakah ia pergi?...
Ketika senja datang menenggelamkan matahari
Sinarnya tak lagi tampak
Angin malam tlah menerbangkan senyumnya
Benang-benang derita tlah menjahit bibirnya
Tak ada lagi kata yang mampu mewakili isi hati
Bunga-bunga tlah layu, bibit yang ditanam tiada tumbuh
Sang pena tlsh kehilangan daya
Tiada lagi goresan pada kertas putih
Dia tetap ada...
Dia terjebak ombak di lautan lepas, terombang-ambing tak tentu arah
Hanya impian tuk meraih bintanglah yang membuatnya bertahan
Tuhan....
Ulurkanlah tangan-Mu
Bebaskanlah dia, kembalikanlah dia
Bukakanlah kembali jalan tuk memetik bintang di langit
KarenaMu
Gemerlapnya lampu malam, tak mampu menerangi sudut gelap hati ini
Cahaya sang surya tak lagi tertangkap sempurna oleh retina
Semuanya gelap, tak ada setitik pun pelita
Oksigen beredar bebas di bumi, tapi paru-paru kehilangan daya tuk menangkapnya
Darah merah segar, kini menjelma menjadi hitam pekat
Dada terasa sesak, jantung pun berdetak lambat
Virus-virus keputus asaan tlah melumpuhkan limfosit dalam raga
Tak ada lagi harap
Akankah sang fajar hadir menggantikan malam?...
Tapi...
Saat kurasakan hadirMu dalam relung hati
Semua organ kembali berfungsi
Oksigen kembali menyegarkan diri, jantungpun berdetak mengikuti irama kasih
Virus-virus dibuat tak berdaya oleh para tentara raga
Kaulah pelita hatiku, Kau terangi setiap sudut gelap hati ini
Kau taburkan benih cinta kasih yang menghiasi taman hati
KarenaMu aku mampu, karenaMu aku mau
Karena mencintaiMu...
Akan slalu membawa kedamaian dalam kalbu
Maaf
Matahari tlah tergelincir kembali ke peraduan
Hari mulai gelap, begitu pula dengan hati ini
Ingin rasanya kubawakan bulan tuk terangi malammu
Tapi ternyata aku bukanlah astronout yang bisa menggapainya
Ingin kubawa tongkat estafet menuju garis finish
Tapi apa daya langkah ini terganjal kerikil-kerikil tajam
Entah apa yang terjadi pada diri ini
Akal berkata bahwa kaulah yang terbaik
Tapi tak demikian adanya dengan hati, karena kau bukanlah lentera jiwaku
Haruskah ku bertahan dengan semua ini?...
Bibir ini pun terasa berat, kehilangan daya tuk menyampaikan isi hati
Andai kubisa memutar roda waktu
Kan kuhapus semua jejakku dari jalan hidupmu
Maaf...
Kata itu memang tak cukup ampuh menyembuhkan luka yang kutorehkan dihatimu
Tapi maaf...
Hanya itulah yang dapat terucap
Bulan
Sinar sang rembulan semakin redup
Cahyanya tak lagi mampu menghidupkan malam
Apakah kiranya yang sedang terjadi?...
Bintang pun tak mampu menjawab
Malam ini pun ia enggan bersanding bersama bulan
Langit...
Apakah yang tlah kau perbuat pada bulan?...
Langit pun terdiam
Malam begitu sunyi, tak ada jawab atas semua tanya
Bulan...
Kembalilah bersinar
Karena kaulah nyawa bagi sang malam
Mengapa???
Tahukah kalian…
Mengapa mereka tak bisa melihat pelangi ?...
Karena mereka adalah pelangi
Tahukah kalian...
Mengapa mereka tak bisa mendengar alunan musik nan syahdu ?...
Karena merekalah musik yang menentramkan kalbu
Tahukah kalian...
Mengapa tak pernah ada kata yang terurai dari bibirnya ?...
Karena lakunya tlah mewakili semua...
Lalu...
Bisakah kalian menjadi pelangi?
Bisakah kalian memainkan musik yang menentramkan hati?
Bisakah laku ini mewakili semua kata?
Bukankah kalian telah sering melihat pelangi?
Bukankah kalian telah sering mendengarkan musik yang menentramkan hati?
Lantas
Mengapa masih ada jawab ”tak bisa”?
Yang kumau hanyalah Kau
Kala fajar menyingsing
Kau menyapaku melalui mentari
Bersama embun pagi nan sejuk, Kau menerobos masuk paru-paru
Mengusir debu yang menyesakkan dada
Lembutnya sutera, tak selembut belaian Kasih-Mu
Rinai hujan takkan memadamkan api cinta-Mu
Sungguh...tak ada lagi kata yang mampu menggambarkan kesempurnaanMu
Yang kumau...
Kau selalu menghiasi setiap hembus nafasku
Menghapus semua duka, menyapu tiap derai air mata
Yang kumau...
Getar-getar cintaMu slalu kurasa, hidup dalam jiwa
Mengalun indah mengikuti irama detak jantung
Ketahuilah...
Sungguh yang kumau hanyalah Kau
Tak Seharusnya
Cahya jingga di ufuk barat tlah lenyap
Sang Dewi malam mulai menempati singgasananya
Tampaknya ia sedang sendiri di sana
Tapi senyumnya tetap menghiasi malam
Kupejamkan mata sejenak
Mencoba rasakan lembutnya belaian angin malam
Dan...
Kuputar kembali rekaman ”itu”
Begitu indah, kata itulah yang harusnya terucap
Tapi rasanya bibir ini tlah terkunci
Hanya linangan air mata yang mampu mewakili
Malu...
Ya, mungkin itu yang kurasa
Bodoh...
Gelar itu memang pantas ku sandang
Bukankah Ia tlah memberiku ruang...
Lantas mengapa ku harus terbelenggu di dalam sesak...
Alunan Rindu
Sinar sang surya perlahan menerobos bumi
Mengusir kegelapan, memecahkan keheningan
Pagi tlah tiba
Harapan baru digantungkan
Seperti itulah Kau
Menyapaku tiap pagi
Bersama mentari
Mengusir gelap dalam hati
Kau belai lembut rambutku
Dan Kau bisikkan
” Aku kan selalu hadir dalam tiap hembus nafasmu”
Indah
Tenang
Damai
Itulah yang kurasa
Tapi...
Kala siang datang
Matahari serasa membakar ubun-ubun
Keteduhan itu sirna seketika
Kepalsuan dunia tlah membutakan mata
Menghalangi masuknya bayangMu dalam jiwa
Air mata kepalsuan
Tlah memadamkan api cinta dalam dada
Raga ini semakin lapuk
Seringkali terombang-ambing di air yang tenang
Angin...
Sampaikanlah alunan rindu ini pada-Nya
Aku Jiwa Aku Raga
Aku raga…
Kau begitu kaya
Tapi…
Aku jiwa
Begitu miskin
Aku raga…
Kau punya segalanya
Sepasang kaki lengkap dengan daya tuk melangkah
Tapi...
Aku jiwa
Tak mampu memberi ruh tuk melangkah
Aku raga...
Kedua tangan yang sempurna
Tapi...
Aku jiwa
Tak mampu mengangkat penderitaan
Aku raga...
Sepasang bola mata yang bening
Mampu melihat keindahan lukisanNya
Tapi...
Aku jiwa
Membuat semuanya menjadi gelap
Narrative Text "An Unseeing Boy"







